Kontraktor Water Treatment
Kontraktor Penanganan Sumber Air Bersih
Ketika seseorang memasuki hotel bintang lima, rumah sakit modern, pabrik, apartemen, atau kawasan industri, hampir tidak ada yang bertanya dari mana air yang mereka gunakan berasal, bagaimana kualitasnya dijaga, atau siapa yang memastikan bahwa air tersebut aman untuk diminum, digunakan, dan dibuang kembali ke lingkungan. Air dianggap sebagai sesuatu yang pasti ada. Ironisnya, ketika sistem air gagal bekerja, seluruh bangunan dapat kehilangan fungsi hanya dalam hitungan jam. Pada titik inilah banyak orang baru menyadari bahwa air bukan utilitas pendukung. Air adalah salah satu sistem kehidupan utama sebuah bangunan.
Banyak Owner menganggap pekerjaan Water Treatment hanyalah memasang filter, tangki, pompa, dan beberapa pipa tambahan. Dalam praktik engineering modern, Water Treatment adalah disiplin yang menggabungkan kimia, mekanika fluida, mikrobiologi, instrumentasi, elektrikal, otomasi, dan manajemen risiko lingkungan. Kesalahan memilih metode pengolahan air dapat menyebabkan kerusakan peralatan, peningkatan biaya operasional, gangguan kesehatan, hingga kegagalan operasional bangunan secara keseluruhan. Yang sedang dikelola bukan sekadar air, tetapi kualitas kehidupan yang bergantung pada air tersebut.
Inilah alasan mengapa Kontraktor Water Treatment tidak bekerja berdasarkan asumsi. Mereka bekerja berdasarkan data. Mereka menganalisis sumber air, kandungan mineral, tingkat kontaminasi, kebutuhan operasional, debit pemakaian, kualitas air keluaran, hingga siklus pemeliharaan jangka panjang. Pada proyek besar, biaya investasi sistem Water Treatment sering kali jauh lebih kecil dibanding kerugian yang dapat ditimbulkan apabila sistem tersebut gagal bekerja.
Karena itu, Kontraktor Water Treatment tidak hadir untuk menjual filter atau mesin pengolahan air. Mereka hadir untuk menjawab satu pertanyaan yang jauh lebih penting:
“Bagaimana memastikan bahwa air yang menopang seluruh aktivitas manusia di bangunan ini tetap dapat dipercaya selama puluhan tahun?”
SOP Kontraktor Water Treatment
Berdasarkan praktik engineering modern, Kontraktor Water Treatment umumnya melaksanakan:
- Survey sumber air.
- Pengambilan sampel air.
- Pengujian laboratorium.
- Analisis kualitas air.
- Analisis debit kebutuhan.
- Penyusunan skema pengolahan.
- Penyusunan process flow diagram.
- Penyusunan hydraulic calculation.
- Penyusunan shop drawing.
- Koordinasi dengan Kontraktor MEP.
- Pengadaan equipment.
- Instalasi sistem.
- Commissioning.
- Water quality testing.
- Training operator.
- Penyusunan operation & maintenance manual.
Workflow
Ketika banyak orang mendengar istilah Kontraktor Water Treatment, yang muncul di benak mereka biasanya adalah pompa, filter, tangki FRP, pipa, atau mesin Reverse Osmosis. Persepsi tersebut tidak sepenuhnya salah, tetapi juga tidak sepenuhnya benar. Dalam praktik engineering modern, Kontraktor Water Treatment bukanlah tukang pompa dan bukan pula penjual filter. Mereka adalah engineer penjaga mutu air, profesi yang bertanggung jawab memastikan bahwa salah satu kebutuhan paling dasar manusia tetap tersedia, aman, konsisten, dan dapat diprediksi selama bangunan beroperasi. Semakin mahal sebuah bangunan, semakin kecil toleransi terhadap kesalahan kualitas air. Hotel termewah sekalipun akan kehilangan kemewahannya ketika air mandi berbau, boiler cepat rusak, cooling tower dipenuhi kerak, atau air minum tidak lagi dapat dipercaya. Karena itu, workflow Kontraktor Water Treatment sebenarnya adalah workflow pengendalian risiko, bukan workflow pemasangan equipment.
Workflow 1 — Site Investigation dan Water Sampling
Tahapan pertama yang dilakukan bukan membawa katalog pompa atau menawarkan mesin RO. Kontraktor Water Treatment akan melakukan investigasi sumber air secara menyeluruh. Mereka harus mengetahui dari mana air berasal, bagaimana karakteristiknya, bagaimana pola konsumsi bangunan, serta bagaimana risiko perubahan kualitas air dalam jangka panjang. Pada tahap ini dilakukan:
- Survey sumber air.
- Survey lokasi instalasi.
- Pengambilan sampel air.
- Pengukuran debit awal.
- Survey utilitas pendukung.
- Survey akses maintenance.
- Dokumentasi kondisi lapangan.
Karena dalam Water Treatment, kesalahan pengambilan data awal dapat menyebabkan seluruh sistem gagal bekerja meskipun equipment yang digunakan adalah yang terbaik.
Workflow 2 — Analisis Laboratorium
Setelah sampel diperoleh, air tersebut akan dianalisis menggunakan metode laboratorium. Air yang terlihat jernih oleh mata manusia belum tentu aman bagi mesin, aman bagi manusia, atau aman bagi operasional bangunan. Pada tahap ini, engineer mulai bekerja menggunakan data, bukan asumsi.
Parameter yang biasanya dianalisis meliputi:
- pH.
- TDS.
- Hardness.
- Turbidity.
- Iron (Fe).
- Manganese (Mn).
- Silica.
- Bacteria.
- Chloride.
- Sulfate.
- Chemical contaminant.
Pada titik ini, Kontraktor Water Treatment mulai memahami satu hal penting:
Mereka tidak sedang merancang instalasi air. Mereka sedang merancang solusi terhadap masalah air.
Workflow 3 — Engineering Design dan Simulasi Sistem
Setelah karakteristik air diketahui, pekerjaan engineering dimulai. Inilah tahap yang tidak pernah dilihat oleh sebagian besar Owner. Seluruh data lapangan diterjemahkan menjadi simulasi, perhitungan, dan skema operasional.
Pekerjaan yang dilakukan antara lain:
- Hydraulic calculation.
- Flow analysis.
- Peak demand calculation.
- Equipment sizing.
- Pressure analysis.
- Pump selection.
- Tank sizing.
- Energy consumption analysis.
- Life cycle cost analysis.
Pada tahap ini, engineer tidak bertanya:
“Pompa merek apa yang bagus?”
Tetapi:
“Pompa seperti apa yang masih bekerja dengan baik sepuluh tahun mendatang?”
Workflow 4 — Process Flow Diagram dan Shop Drawing
Setelah sistem disetujui, seluruh konsep engineering diterjemahkan menjadi bahasa konstruksi.
Dokumen yang disiapkan meliputi:
- Process Flow Diagram (PFD).
- Piping & Instrumentation Diagram (P&ID).
- Shop drawing.
- Equipment layout.
- Pipe routing.
- Instrumentation layout.
- Electrical diagram.
- Automation diagram.
Tahap ini sangat penting karena sebagian besar konflik proyek bukan terjadi akibat kualitas equipment, tetapi akibat koordinasi ruang dan utilitas.
Workflow 5 — Procurement dan Fabrikasi
Pada tahap ini, Kontraktor Water Treatment mulai berubah menjadi organisasi manufaktur dan logistik.
Pekerjaan yang dilakukan:
- Pengadaan equipment.
- Pengadaan valve.
- Pengadaan membrane.
- Pengadaan filter media.
- Pengadaan pompa.
- Pengadaan instrumentasi.
- Fabrikasi skid system.
- Fabrikasi support structure.
- Quality control workshop.
Yang dibeli bukan sekadar barang.
Yang dibeli adalah keandalan operasional.
Workflow 6 — Instalasi dan Integrasi Sistem
Tahap pelaksanaan lapangan melibatkan:
- Mechanical installation.
- Piping installation.
- Electrical installation.
- Instrument installation.
- PLC installation.
- SCADA installation.
- Integration testing.
- Utility connection.
Pada tahap ini, Kontraktor Water Treatment mulai berkoordinasi intensif dengan:
- Kontraktor MEP.
- Kontraktor HVAC.
- Kontraktor STP.
- Kontraktor Elektrikal.
- Building Management System.
Karena sistem air modern tidak pernah bekerja sendirian.
Workflow 7 — Commissioning dan Water Quality Validation
Inilah tahap yang membedakan Kontraktor Water Treatment dengan tukang instalasi biasa.
Yang diuji adalah:
- kualitas air;
- kestabilan debit;
- kestabilan tekanan;
- konsumsi energi;
- performa filter;
- performa membrane;
- sistem alarm;
- sistem otomasi;
- performa jangka panjang.
Pada tahap ini, engineer bertanya:
“Apakah sistem ini akan tetap bekerja ketika kami sudah tidak berada di lokasi?”
Workflow 8 — Training dan Handover
Tahap terakhir bukan serah terima equipment.
Tahap terakhir adalah transfer pengetahuan.
Kontraktor Water Treatment akan melakukan:
- Training operator.
- Training maintenance.
- Penyusunan SOP.
- Penyusunan O&M Manual.
- Penyusunan troubleshooting guide.
- Penyusunan preventive maintenance schedule.
Karena pada akhirnya, Kontraktor Water Treatment tidak dibayar untuk memasang filter dan pompa.
Tools
Kontraktor Water Treatment modern bukan tukang pasang filter seperti yang dibayangkan sebagian orang. Mereka adalah organisasi engineering yang bekerja menggunakan data, analisis laboratorium, software perhitungan, dan sistem otomasi industri. Air yang terlihat jernih oleh mata manusia belum tentu memenuhi syarat operasional sebuah bangunan.
Tim engineering mereka terdiri dari:
- Process Engineer.
- Mechanical Engineer.
- Electrical Engineer.
- Instrument Engineer.
- Chemical Specialist.
- Commissioning Engineer.
Peralatan yang digunakan antara lain:
- TDS Meter.
- pH Meter.
- Turbidity Meter.
- Spectrophotometer.
- Flow Meter.
- Pressure Gauge.
- PLC System.
- SCADA.
- AutoCAD.
- Autodesk Revit.
- WaterCAD.
- EPANET.
Analysis
Menemukan Kontraktor Water Treatment yang tepat sering kali lebih sulit dibanding memilih supplier equipment. Hampir semua supplier dapat menjual pompa, filter, atau membrane. Namun sangat sedikit yang mampu menjawab satu pertanyaan sederhana:
“Bagaimana sistem ini akan bekerja sepuluh tahun dari sekarang?”
Sistem Water Treatment yang baik bukan sistem yang paling mahal. Bukan sistem yang paling besar. Bukan sistem yang paling kompleks.
Tetapi sistem yang:
- mudah dioperasikan;
- mudah dirawat;
- efisien secara energi;
- mudah diperbaiki;
- dan tetap menghasilkan kualitas air yang konsisten.
Impact
Ketika sistem Water Treatment gagal, penyebabnya tidak selalu karena Kontraktor Water Treatment tidak profesional. Sebagian besar kegagalan justru terjadi karena sistem dipaksa bekerja di luar kondisi desainnya. Kapasitas diperbesar tanpa redesign, kualitas air baku berubah tanpa evaluasi ulang, maintenance dikurangi, atau biaya operasional ditekan secara berlebihan. Dalam banyak kasus, sistem gagal bukan karena engineering yang buruk, tetapi karena ekspektasi yang dipaksakan melebihi kemampuan sistem itu sendiri.
Yang lebih menarik, ketika sistem air gagal, hampir seluruh pengguna bangunan akan menyalahkan bangunan tersebut, bukan sistemnya. Mereka tidak akan bertanya apakah hardness terlalu tinggi, apakah membrane fouling terjadi, atau apakah dosing pump mengalami masalah. Mereka hanya akan menyimpulkan satu hal:
“Gedung ini bermasalah.”
Dan dalam dunia properti, reputasi yang rusak sering kali jauh lebih mahal daripada biaya perbaikan sistemnya.
Studi Kasus
Ketika sebuah hotel, rumah sakit, atau kawasan industri mulai merencanakan sistem Water Treatment, pertanyaan pertama yang sering muncul adalah:
“Berapa harga instalasi water treatment untuk kapasitas sekian ton?”
Pertanyaan tersebut terlihat logis. Namun bagi seorang engineer Water Treatment, pertanyaan tersebut hampir sama seperti bertanya:
“Berapa harga rumah?”
Tanpa mengetahui lokasi, jumlah penghuni, kebutuhan listrik, struktur, dan fungsi bangunan. Karena dalam dunia Water Treatment, kapasitas hanyalah salah satu variabel. Yang jauh lebih penting adalah kualitas air baku, kualitas air target, pola konsumsi, dan risiko operasional.
Hotel Bintang 5 – Sistem Air Bersih dan Softener
Data proyek:
- Hotel: 180 kamar.
- Occupancy: 80%.
- Restaurant: 2 unit.
- Ballroom: 800 orang.
- Laundry internal.
- Cooling tower HVAC.
Owner bertanya:
“Kalau kebutuhan air sekitar 200 ton/hari, berapa harga water treatment-nya?”
Jawaban profesional:
“Kami belum tahu.”
Karena sebelum menentukan harga, Kontraktor Water Treatment harus mengetahui:
| Parameter | Nilai |
|---|---|
| Sumber air | PDAM / Sumur |
| TDS | ? |
| Hardness | ? |
| Fe | ? |
| Mn | ? |
| pH | ? |
| Debit puncak | ? |
Tanpa data tersebut, yang dihitung bukan engineering.
Yang dihitung adalah keberuntungan.
Rumah Sakit – Sistem Reverse Osmosis
Data proyek:
- Rumah sakit 200 bed.
- Hemodialisa.
- Laboratorium.
- Central Sterile Supply Department.
- ICU.
Owner bertanya:
“Berapa harga RO per ton?”
Masalahnya:
RO tidak dihitung berdasarkan tonase saja.
RO dihitung berdasarkan:
| Parameter | Nilai |
|---|---|
| TDS inlet | ? |
| TDS outlet | ? |
| Recovery rate | ? |
| Reject ratio | ? |
| Operating hour | ? |
| Membrane life | ? |
Dua sistem RO dengan kapasitas yang sama dapat memiliki biaya investasi yang berbeda hingga beberapa kali lipat.
Lantas Dari Mana Kita Mulai Menghitung?
Jawabannya:
Jangan mulai dari mesin.
Mulailah dari airnya.
Kontraktor Water Treatment profesional akan melakukan:
- Water sampling.
- Laboratory test.
- Flow analysis.
- Peak demand analysis.
- Hydraulic calculation.
- Equipment sizing.
- Operating cost simulation.
- Life cycle cost analysis.
Tools Perhitungan
Perhitungan modern dilakukan menggunakan:
- WaterCAD.
- EPANET.
- Autodesk Revit MEP.
- AutoCAD Plant 3D.
- Excel Engineering.
- SCADA Simulation.
- PLC Logic Simulation.
Karena pada tahun 2026, tidak ada lagi sistem Water Treatment profesional yang dirancang berdasarkan:
“Biasanya sih pakai tangki ukuran ini.”
Hirarki Water Treatment
Banyak Owner bertanya:
“Mengapa Kontraktor Water Treatment berada di bawah Kontraktor MEP?”
Jawabannya sederhana.
Karena Water Treatment bukan sistem yang berdiri sendiri.
│
KONTRAKTOR MEP
│
KONTRAKTOR WATER TREATMENT
Karena itu, Kontraktor MEP bukan rival mereka.
Kontraktor MEP adalah organisasi induk mereka.
Banyak orang mengira bahwa Kontraktor Water Treatment berdiri sendiri.
Padahal dalam praktik konstruksi modern, mereka merupakan bagian dari organisasi MEP.
KONTRAKTOR UTAMA
│
├── KONTRAKTOR MEP
│ │
│ ├── Kontraktor HVAC
│ ├── Kontraktor STP
│ ├── Kontraktor IPAL
│ ├── Kontraktor Water Treatment
│ ├── Kontraktor Network
│ └── Kontraktor Fire & Safety
│
├── KONTRAKTOR INTERIOR
├── KONTRAKTOR EXTERIOR
└── KONTRAKTOR LANDSCAPE
Kontraktor Water Treatment berada di bawah Kontraktor MEP karena seluruh sistem mereka bergantung pada:
- pompa;
- elektrikal;
- instrumentasi;
- otomasi;
- plumbing;
- drainase;
- SCADA;
- Building Management System.
Analysis
Menemukan Kontraktor Water Treatment yang tepat sering kali lebih sulit dibanding memilih kontraktor bangunan lainnya. Sebagian besar Owner masih melihat Water Treatment sebagai pembelian equipment, bukan pembelian engineering. Mereka membandingkan ukuran tangki, jumlah filter, merek pompa, atau kapasitas membrane, padahal seluruh komponen tersebut hanyalah hasil akhir dari sebuah proses analisis yang jauh lebih kompleks. Dalam praktik profesional, Kontraktor Water Treatment yang baik tidak menjual mesin. Mereka menjual keputusan engineering yang tepat.
Banyak sistem Water Treatment gagal bukan karena teknologinya buruk, tetapi karena sejak awal pertanyaan yang diajukan sudah salah. Owner bertanya tentang harga sebelum bertanya tentang kualitas air. Owner bertanya tentang kapasitas sebelum bertanya tentang pola konsumsi. Owner bertanya tentang merek sebelum bertanya tentang kebutuhan operasional. Akibatnya, sistem yang dibangun sering kali terlalu kecil, terlalu besar, terlalu mahal, atau terlalu rumit untuk dioperasikan oleh pengguna sehari-hari.
Yang lebih menarik, sistem Water Treatment yang berhasil justru sering kali tidak pernah diperhatikan oleh siapa pun. Tidak ada tamu hotel yang memuji kualitas softener. Tidak ada penghuni apartemen yang memuji balancing tank. Tidak ada pasien rumah sakit yang mengapresiasi sistem pretreatment RO. Keberhasilan Water Treatment diukur dari satu kondisi sederhana:
Tidak ada seorang pun yang menyadari bahwa sistem tersebut sedang bekerja.
Sudut Pandang Owner
Bagi Owner, pertanyaan utama seharusnya bukan:
“Berapa harga instalasinya?”
Tetapi:
“Berapa biaya operasional dan risikonya selama 20 tahun?”
Parameter yang harus dievaluasi:
- biaya investasi;
- biaya listrik;
- biaya chemical;
- biaya maintenance;
- biaya replacement;
- ketersediaan spare part;
- kemudahan operator;
- umur sistem.
Sudut Pandang Operator
Operator biasanya melihat sistem Water Treatment dari perspektif yang berbeda:
- mudah dijalankan;
- mudah diperbaiki;
- mudah dipantau;
- tidak sering alarm;
- spare part tersedia;
- tidak membutuhkan operator khusus;
- biaya operasional dapat diprediksi.
Banyak sistem canggih gagal bukan karena teknologinya buruk, tetapi karena terlalu rumit untuk dioperasikan.
Sudut Pandang Kontraktor Water Treatment
Ketika menerima proyek, Kontraktor Water Treatment profesional biasanya bertanya:
- Dari mana air berasal?
- Air akan digunakan untuk apa?
- Berapa debit puncak?
- Siapa operatornya?
- Berapa anggaran operasional?
- Berapa umur desain sistem?
- Apa risiko terbesar jika sistem gagal?
Karena bagi mereka, sistem yang terlalu murah dan sistem yang terlalu mahal sama-sama merupakan kegagalan desain.
FAQ
Apakah sistem Water Treatment diperlukan jika sumber air berasal dari PDAM?
Belum tentu tidak diperlukan. Banyak bangunan tetap menggunakan softener, filter multimedia, activated carbon, UV sterilizer, atau sistem polishing untuk memastikan kualitas air tetap sesuai kebutuhan operasional bangunan.
Apa perbedaan Water Treatment, STP, dan IPAL?
Water Treatment bertugas menghasilkan air yang dapat digunakan. STP bertugas mengolah limbah domestik. IPAL bertugas mengolah limbah proses atau limbah industri. Ketiganya sering bekerja dalam satu siklus utilitas bangunan yang sama.
Mengapa biaya Water Treatment sulit dihitung per meter persegi bangunan?
Karena sistem Water Treatment tidak bergantung pada luas bangunan, melainkan pada kualitas air baku, kebutuhan air, pola konsumsi, standar kualitas output, dan risiko operasional.
Apakah sistem RO selalu merupakan solusi terbaik?
Tidak. Reverse Osmosis adalah salah satu metode pengolahan air, bukan solusi untuk seluruh kasus. Dalam beberapa proyek, softener, ultrafiltration, atau sistem filtrasi konvensional justru lebih efisien.
Mengapa Kontraktor Water Treatment membutuhkan analisis laboratorium?
Karena air yang terlihat jernih belum tentu memenuhi syarat teknis. Parameter seperti TDS, hardness, pH, kandungan besi, mangan, bakteri, dan kontaminan lainnya harus diukur sebelum sistem dirancang.
Bagaimana memilih Kontraktor Water Treatment di Medan?
Pemilihan sebaiknya mempertimbangkan pengalaman proyek sejenis, kemampuan engineering, kemampuan commissioning, kemampuan after-sales service, ketersediaan spare part, serta kemampuan memberikan analisis operasional jangka panjang.
Apakah sistem Water Treatment harus selalu menggunakan otomasi?
Tidak selalu. Namun untuk hotel, rumah sakit, apartemen, dan industri modern, otomasi biasanya digunakan untuk meningkatkan keandalan, efisiensi, dan kemudahan pengoperasian.
Kesimpulan
Ketika sebuah bangunan kehilangan listrik, manusia masih dapat bertahan selama beberapa waktu. Ketika sistem pendingin udara berhenti bekerja, operasional masih dapat berjalan dengan keterbatasan tertentu. Namun ketika sistem air gagal, seluruh bangunan mulai kehilangan salah satu fondasi kehidupan yang paling mendasar.
Kontraktor Water Treatment hadir bukan untuk menjual filter, membrane, pompa, atau tangki. Mereka hadir untuk memastikan bahwa air yang menopang aktivitas manusia tetap memiliki kualitas, kuantitas, dan keandalan yang dapat dipercaya selama umur bangunan berlangsung. Mereka bekerja di balik dinding, di ruang utilitas, di basement, dan di area yang hampir tidak pernah dilihat oleh pengguna bangunan. Ironisnya, semakin baik mereka bekerja, semakin sedikit orang yang menyadari keberadaan mereka.
Karena pada akhirnya, keberhasilan sistem Water Treatment bukan diukur dari seberapa banyak orang yang memujinya.
Sumber Luar
Regulation
- Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup — Mengatur baku mutu lingkungan, pengelolaan air limbah, serta kewajiban pengendalian pencemaran.
- Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2021 tentang Bangunan Gedung — Mengatur keandalan bangunan, utilitas, dan sistem pendukung operasional bangunan.
- Badan Standardisasi Nasional (BSN) – Standar Nasional Indonesia Bidang Air dan Utilitas — Referensi standar nasional untuk sistem perpipaan, utilitas, dan pengolahan air.
Publication
- Water Research (Elsevier) — Publikasi internasional mengenai teknologi pengolahan air, kualitas air, dan rekayasa lingkungan.
- Water (MDPI) – Open Access Journal of Water Science and Technology — Publikasi mengenai distribusi air, water treatment, sustainability, dan utilitas bangunan.
- IEEE Xplore – Smart Water Management Systems — Publikasi mengenai monitoring, sensor, SCADA, IoT, dan otomasi sistem pengolahan air.
Book
- Water Treatment Principles and Design (Google Books) — Referensi engineering pengolahan air, desain instalasi, dan proses treatment.
- Water Supply and Sewerage (Google Books) — Referensi sistem distribusi air, utilitas bangunan, dan sanitary engineering.
- Mechanical and Electrical Equipment for Buildings (Google Books) — Referensi integrasi sistem utilitas, plumbing, water treatment, dan building services.
Additional Reference
- American Water Works Association (AWWA) — Organisasi internasional bidang pengolahan, distribusi, dan manajemen sistem air.
- Water Environment Federation (WEF) — Referensi pengolahan air limbah, sustainability, dan environmental engineering.
- ASHRAE Official Website — Referensi integrasi sistem utilitas bangunan, cooling tower, HVAC water loop, dan building performance.
Artikel yang sama :
Menghitung Luas Bangunan, Analisa Harga Satuan, Jenis Atap Rumah
Kembali Ke Halaman :
HOME | CONTACT | PROFIL | ARTIKEL TERKAIT | Hubungi Kami Via WA
VECTOR 41 Arsitek – Kota Medan – Sumatera Utara – INDONESIA
IG . Behance . Pintrest
Jl,Abdulhakim, Setiabudi Landmark, 14 E
Kel.Tanjung sari, Kec.Medan Selayang, Kota Madya Medan
20132 – Medan
(061) 42081483
vector41inc@gmail.com
